SISTEM KOMUNIKASI PROAKTIF UNTUK MENJAGA REPUTASI PERUSAHAAN

Krisis dapat menimpa semua instansi maupun perusahaan walaupun mereka mempunyai reputasi solid, financial performance baik dan masa depan yang cerah.  Ada industri yang lebih sensitif terhadap terjadinya krisis, misalnya industri penerbangan, karena frekuensi penerbangan setiap hari dapat berjumlah puluhan. Dan seperti kita ketahui, beberapa saat pesawat take-off dan mendarat merupakan waktu-waktu yang krusial bagi suatu penerbangan. 

Namun, bukan hanya industri penerbangan saja yang dapat mengalami krisis karena tidak ada lembaga, perusahaan, bahkan individu yang kebal terhadap krisis. Krisis tidak pilih-pilih dan dapat terjadi sewaktu-waktu.

Dalam ilmu public relations, apakah ada sistem yang dapat mempersiapkan lembaga atau perusahaan untuk menghadapi krisis? Jawabannya, ada dan bernama issues management

Sebelum kita simak issues management secara lebih mendetail, mari kita memahami terlebih dahulu apa arti issue itu. Issue adalah suatu kondisi atau tekanan, tren atau kejadian yang dapat berdampak secara signifikan terhadap lembaga atau perusahaan, bahkan individu. Bila selama ini kita berpikir issue (atau isu) itu sesuatu yang negatif, dalam issues management, suatu issue itu bisa negatif, bisa juga positif. 

Contohnya di bulan Juni 2015, Komite Keselamatan Uni Eropa merilis Air Safety List.  Dari Indonesia hanya empat maskapai, termasuk Garuda Indonesia, yang masuk dalam daftar diizinkan terbang ke kawasan itu. Ini merupakan issue positif bagi maskapai yang masuk dalam daftar tersebut, tetapi negatif bagi maskapai yang tidak masuk daftar tersebut. Menanggapi rilis tersebut, jelas strategi komunikasi masing-masing maskapai berbeda.

Kemudian issue dapat berasal dari sumber di luar perusahaan, termasuk pemberitaan oleh media, media sosial, maupun dari sumber internal lembaga atau perusahaan.  Selain itu, issue mempunyai dimensi sosial maupun politik. 

Issues management atau penanganan issue merupakan fungsi manajemen yang mengkaji opini public secara proaktif, baik internal maupun eksternal, mengidentifikasi berbagai kemungkinan maupun peristiwa yang mungkin terjadi, dan menanganinya sebelum issue tersebut berkembang menjadi suatu krisis.

Walaupun krisis kadang-kadang tidak terelakan, lembaga atau perusahaan sudah mempersiapkan diri menghadapinya. Issues management juga merupakan salah satu prosedur untuk mengelola risiko reputasi.

Nah, issue dapat mencakup berbagai masalah, dari manajemen, kinerja keuangan, produk atau jasa, pelayanan, regulator, lingkungan hidup, keamanan sampai ke berita bohong atau hoax yang dicetuskan di media sosial.

Langkah pertama untuk menerapkan sistem issues management di institusi atau perusahan adalah membentuk Issues Management Team. Tim utama yang disebut core team, beranggotakan wakil direksi, biasanya corporate secretary, kepala bagian corporate communications yang bertindak sebagai koordinator karena dianggap memiliki keahlian dan pengalaman di bidang komunikasi/public relations, dan wakil-wakil dari setiap bagian. 

Berdasarkan sifat issue atau potensi risiko reputasi, keanggotaan dapat diperluas untuk mencakup konsultan atau tenaga ahli dari dalam maupun luar perusahaan, seperti misalnya pakar, ketua asosiasi, wakil dari civitas academica, konsultan dan sebagainya. Ini bisa disebut extended team members yang tidak permanen dan bergerak bila dibutuhkan. 

Lingkup tugas dari core team adalah menginventaris issue atau potensi risiko reputasi. Kemudian menetapkan sistem peringatan dini atau early warning system. Lalu mengkaji laporan-laporan yang disampaikan kepada core team. Menetapkan strategi komunikasi dan rencana tindak untuk menangani issue-issue tersebut. Kemudian melaksanakan rencana tindak yang telah ditetapkan.

Ini bukan pekerjaan yang mudah dan perlu pelatihan PR untuk memahami ilmu tersebut dan cara mempraktikkannya berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan dalam Communication Policies & Procedures Manual yang mutlak harus dibuat oleh setiap instansi maupun perusahaan.

Bagaimanakah dapat mempelajari ilmu ini? Praktisi atau calon praktisi PR perlu mengikuti teori, pelatihan dan simulasi yang diberikan oleh konsultan Public Relations (PR) senior yang mempunyai jam terbang yang panjang. Dan bila issue berkembang menjadi krisis, diperlukan ilmu crisis management. 



PIDATO 7 MENIT

 

Akhirnya, terbitlah ketentuan baru dari Istana mengenai sambutan menteri dan pemimpin lembaga yang dibatasi hanya selama 7 menit pada kegiatan yang dihadiri Presiden Joko Widodo. Pembatasan sambutan paling lama 7 menit hanya berlaku pada kegiatan seremonial dan tidak berlaku pada rapat-rapat yang dihadiri Presiden Jokowi.  Namun demikian, ketentuan ini merupakan awal yang menggembirakan.

Selama berpraktik lebih dari 30 tahun di bidang public relations, patokan ini menjadi dasar pembuatan sambutan atau pidato pada acara-acara yang diselenggarakan oleh perusahaan maupun instansi klien. Mengapa? Karena sesudah 7 menit, perhatian serta kemampuan untuk menyerap konten sambutan atau pidato, menurun. Yang mungkin masih menyulitkan adalah bagaimana mengemas pesan-pesan yang penting dalam kurun waktu yang ditentukan, padahal banyak sekali yang ingin disampaikan. 

Ini merupakan suatu kemampuan atau skill yang perlu dipelajari dan dilatih – suatu tantangan bagi praktisi PR yang tugas pokoknya meliputi juga pengemasan dan penyampaian pesan-pesan kunci atau key messages secara efektif kepada pihak eksternal perusahaan ataupun lembaga.

Menetapkan key messages sebaiknya jangan terlalu banyak, tiga sudah cukup. Kalau pidato atau sambutan dibatasi 7 menit mungkin membagiannya adalah 1 menit pembukaan, 2 menit untuk masing-masing key message dan diakhiri dengan ucapan ‘terima kasih’.  Atau bila key message pertama lebih penting daripada dua yang lain, dapat dialokasikan waktu yang lebih banyak, misalnya 3 menit untuk key message 1, dan 1.5 menit masing-masing untuk key message 2 dan 3.

Di era komunikasi instan dan teknologi informasi canggih, pidato bertele-tele yang biasanya memakan waktu 30 menit, kadang-kadang lebih, memang sudah tidak pada tempatnya. You will have lost the attention of the audience. Lebih lama sambutan atau pidato, semakin menurun perhatian dan penyerapan audience, semakin kurang efektif juga penyampaian pesan.

Pembatasan tersebut bukan saja diharapkan untuk sambutan atau pidato tetapi juga presentasi. Biasanya, bila mengadakan pitching, calon klien akan meminta public relations agencies untuk mengadakan presentasi yang hanya terdiri dari 5 Power Point slides, misalnya. Kami bahkan pernah diminta oleh klien untuk melaporkan perkembangan tugas yang dibatasi hanya dalam 2 slides.

Pembatasan mungkin juga diharapkan nanti untuk pengemasan dan penyampaian laporan, yang tentunya memerlukan banyak halaman bila cakupannya banyak.  Pernah kami ikut serta dalam suatu workshop yang diselenggarakan oleh instansi pemerintah, yang bertujuan untuk mengemas dan menghasilkan laporan, biasanya berjumlah puluhan lembar, menjadi hanya 9 lembar saja. Dengan kerja sama semua pihak internal yang terkait, pelatihan tersebut memerlukan 3 hari kerja.

Aturan seperti ini memang masuk akal, it makes sense. Sebagai contoh, berapa banyak laporan yang disampaikan kepada menteri atau CEO dari semua bagian di instansi atau perusahaannya? Banyak bukan? Bila Anda merupakan kepala bagian yang perlu menyampaikan laporan, berarti Anda ingin laporan yang lebih menarik perhatian dibandingkan laporan lainnya, bukan? Sebaiknya, laporan Anda dapat diawali dengan executive summary yang tidak lebih dari 2 lembar, kalau bisa hanya 1 lembar saja.  Kemudian disusul dengan 7 lembar laporan pokok.

Untuk mempresentasikan laporan Anda, bila kita berpatokan pada waktu yang ditetapkan, yaitu 7 menit, gunakan konten executive summary yang 1 lembar, tuangkanlah dalam 5 slides presentasi paling banyak. Sebagai contoh, slide judul, slide key message 1, slide key message 2 dan slide key message 3, terakhir slide kesimpulan sebagai penutup.

Penyampaiannya memang menuntut pemahaman saksama tentang konten sehingga penjelasan dapat dilakukan hanya berdasarkan poin-poin dalam slides. Repotnya, bila presentasi dibuat oleh staf, tetapi disampaikan oleh atasan. Oleh karena itu, perlu banyak latihan untuk menyamakan persepsi dan pemikiran serta meningkatkan kemampuan berpresentasi atau presentation skills sehingga memenuhi batas waktu 7 menit.

 

Oleh: Maria Wongsonagoro

Konsultan Public Relations dan Chief of Training Merdi Intar Sinau - MISI



PUBLIC RELATIONS IBARAT SUNGAI

 

Menjelaskan tentang public relations yang merupakan fungsi manajemen strategis untuk membina hubungan saling menguntungkan antara suatu perusahaan atau institusi dan stakeholders-nya, sering saya memberi analogi public relations itu ibarat sungai, ada hulu dan hilir.

 

HULU

Di bagian hulu, public relations mencakup visi dan misi serta nilai-nilai atau values yang ditetapkan institusi atau perusahaan yang menggambarkan this is who we are.  Tujuan dan strategi bisnis atau rencana strategis (renstra) tercakup juga di hulu. Kemudian terdapat strategi komunikasi korporasi atau corporate communication strategy disertai action plan yang menggambarkan program-program dan berbagai kegiatan komunikasi korporasi.  

Untuk menghasilkan corporate communication strategy yang tepat dan efektif, institusi atau perusahaan perlu melakukan suatu proses yang mencakup beberapa tahapan.  

Tahap pertama adalah melakukan analisis situasi atau situational analysis tentang keadaan yang dihadapi instansi atau perusahaan, mencakup keadaan ekonomi, finansial, industri, iklim berbisnis, keadaan masyarakat dan sebagainya.

Tahap kedua adalah melakukan pemetaan stakeholders atau para pemangku kepentingan.  Stakeholders meliputi pemerintah, industri, kompetitor, konsumen, calon konsumen, media, kelompok berkekuatan (pressure groups), para pembentuk opini (opinion formers), supply chain, civitas academica, masyarakat sekitar daerah operasi perusahaan (surrounding communities), masyarakat dalam negeri dan masyarakat luar negeri.  

Tahap ketiga adalah pembuatan research and perception survey untuk mengevaluasi persepsi para stakeholders. Oleh karena salah satu tujuan public relations adalah membangun reputasi instansi atau perusahaan, persepsi para stakeholders perlu diketahui agar dapat memahami apakah persepsi positif, negatif, samar-samar atau tidak tahu sama sekali tentang instansi atau perusahaan. Hasil perception survey dianalisis.

Tahap keempat adalah merancang communication strategy yang tepat dan efektif dari hasil analisis perception survey untuk membangun reputasi serta mendukung strategi bisnis dan juga marketing. Hal ini merupakan proses yang sulit, yang memerlukan ahli public relations dan communication dengan jam terbang yang panjang dengan otoritas setingkat direktur atau vice president, bahkan senior vice president.

Karena perubahan selalu terjadi, perception survey sebaiknya dilaksanakan setiap tahun, atau apabila dibutuhkan untuk kelompok stakeholders tertentu. Dengan perubahan persepsi, maka communications strategy juga perlu diubah.

Membangun reputasi berarti pula menjaga nama baik.  Bila persepsi menjadi negatif, hal tersebut perlu ditangani dengan cepat dan efektif. Bagian hulu juga mencakup sistem issues management, yaitu secara proaktif menangani issue sebelum situasinya berkembang menjadi krisis. Namun bila issue berkembang menjadi suatu krisis, sistem untuk penanganannya adalah crisis communications management untuk mendukung crisis management. Ini juga terdapat di bagian hulu.

 

HILIR

Bagian hilir mencakup kegiatan dan program public relations dan communication untuk melaksanakan corporate communications strategy yang ditetapkan di bagian hulu. Ini meliputi kegiatan dan program dengan media seperti media relations (membangun hubungan serasi dengan media), media tour, media familiarization trips, distribusi rilis, konferensi media; stakeholders engagement seperti kegiatan dan program dengan kelompok stakeholders; program dan kegiatan corporate social responsibility (CSR); dan kegiatan lainnya, semuanya untuk menerjemahkan visi dan misi institusi atau perusahaan dan membangun kepercayaan masyarakat dan reputasi.

 

PREREQUISITE ATAU PRASYARAT

Melihat pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa inti dari public relations adalah communication. Seseorang yang ditugaskan memimpin unit atau bagian public relations atau corporate communication department atau humas, perlu sosok yang cerdas dengan kemampuan berpikir strategis, mempunyai analytical skills, peka terhadap issues, memiliki kemampuan berkomunikasi baik (good communication skills) dalam bahasa Indonesia dan Inggris, cukup berpengalaman, pengambil keputusan yang cepat (quick decision maker) dan tetap tenang walaupun terjadi berbagai gejolak di institusi atau perusahaannya.       Ini dikarenakan ia berada di garis depan sebagai juru bicara institusi atau perusahaan menopang para pemimpin.

Perlu juga bagi instansi atau perusahaan untuk mengadakan evaluasi tentang sistem komunikasi yang ada. Apakah unit atau bagian yang diberi tugas melaksanakan public relations (atau humas) mempunyai kapasitas untuk melaksanakan tugas-tugas public relations and communication sesuai dengan best practice?  Sudahkah institusi atau perusahaan memiliki panduan kebijakan dan prosedur komunikasi (Communications Policies & Procedures Manual) yang dapat memberi pengarahan dan panduan berkomunikasi bagi semua pemangku kepentingan internal (internal stakeholders)?

Ilmu public relations dari hulu sampai hilir diajarkan di professional development center MISI – Merdi Intar Sinau.  Untuk mendalami profesi public relations, belajarlah dengan kami.



MIMPI MENJADI KENYATAAN

Edisi 3 majalah PR Indonesia April 2015 dengan judul “Mimpi Membangun Sekolah PR” menjelaskan mengapa kami ingin mendirikan sekolah Public Relations.  Setelah menjadi praktisi PR lebih dari 30 tahun dan melihat kebutuhan praktisi public relations yang terlatih dengan baik dan siap kerja, maka mimpi tersebut telah menjadi kenyataan. Pada tanggal 15 November 2016, akte pendirian professional development center yang diimpikan telah ditandatangani.  Namanya: MERDI INTAR SINAU.

Merdi Intar Sinau berasal dari kata-kata Jawa yang berarti:

   MERDI – mengajar atau memajukan

   INTAR – menjadi pintar, berilmu pengetahuan tinggi

   SINAU – melalui proses belajar

Curriculum telah dirancang untuk mempersiapkan para peserta dengan pengetahuan serta kemampuan atau skills yang dibutuhkan melalui pelatihan dan beragam studi kasus dilatarbelakangi teori, bertujuan untuk menjadikan public relations sebagai fungsi manajemen strategis atau public relations - a strategic management function. 

Namun tidak kalah penting, para peserta juga dibekali dengan pengetahuan dan pelatihan strategi public relation, strategi komunikasi PR, strategic thinking dan decision making skills untuk nantinya menghadap berbagai issue yang terjadi dan berdampak bagi perusahaan atau lembaga di mana ia akan bekerja.  Hal ini sangat diperlukan karena pada akhirnya, dengan pendidikan dan pelatihan dasar yang kuat serta jam terbang yang mencukupi, praktisi public relations akan dituntut untuk menyusun strategi komunikasi untuk membangun reputasi, mendukung strategi bisnis maupun strategi marketing perusahaan maupun lembaga di mana ia bekerja.

Training public relation di kantor MISI Jakarta, memberikan pelajaran dan pelatihan dalam bahasa Indonesia dan Inggris, dikemas berdasarkan praktek PR - Public Relations in Practice - selama 8 bulan.  Modules yang diberikan antara lain mencakup Understanding Public Relations as a strategic management function, yang mengubah persepsi bahwa PR itu hanya merupakan hubungan dengan media, menangani berbagai events, bahkan hubungan dengan pelanggan saja. Para peserta juga akan dibekali pengetahuan mengenai pemangku kepentingan – stakeholders – pemetaan stakeholders, pentingnya research dan survey persepsi stakeholders agar dapat merancang strategi komunikasi yang tepat bagi setiap kelompok stakeholders, untuk mendukung strategi bisnis ataupun strategi lembaga, bahkan pemerintah. 

Para peserta juga akan dibekali pengetahuan mengenai media, baik media konvensional – cetak, online, elektronik – maupun media sosial.  Pengetahuan ini ditambah dengan pemetaan media, membangun hubungan yang serasi dengan media dan para jurnalis, bagaimana mengemas informasi menjadi stories with high news value – nilai berita tinggi - menggunakan kekuatan media sosial untuk menyampaikan pesan dan informasi serta cara menulis rilis media yang efektif dan penanganan konperensi media, program dan events media.

Bagaimana melakukan wawancara yang efektif di televisi juga diajarkan, selain teori, juga dengan wawancara para peserta yang diliput video, playback dan analisa, serta rekomendasi perbaikan yang perlu dilaksanakan.  Sebetulnya, pelajaran dan pelatihan PR ini diperlukan untuk semua pihak yang ditugaskan sebagai juru bicara perusahaan atau lembaga – bagaimana menyampaikan key messages dengan efektif melalui wawancara televisi. 

 

Meningkat ke level yang lebih tinggi, Public Relations in Practice memberi pelajaran dan pelatihan penanganan issues – issues management – dan penanganan komunikasi di saat krisis – crisis communication management.  Bagian ini menguji strategic thinking dari praktisi PR, walaupun masih memerlukan pengalaman di bidang PR - jam terbang yang cukup - terutama crisis communication management.  Inilah alasan perusahaan menempatkan praktisi PR di jabatan Director ataupun Senior Vice President.

Perusahaan yang berencana untuk listing dan menjadi perusahaan terbuka memerlukan dukungan komunikasi/PR, pelajaran dan pelatihan di bidang ini akan diajarkan dalam moduleGoing Public and the PR Role.  Selain itu, para peserta akan diberi pelajaran dan pelatihan tentang The Power of Three – yaitu kekuatan yang dapat dihimpun tiga unsur dalam perusahaan terbuka – Corporate Secretary – Corporate Communication – Investor Relations untuk stakeholder relations and engagement, perancangan dan pelaksanaan communication strategy, issues management dan crisis management.

Keberhasilan tim komunikasi melaksanakan berbagai program dan kegiatan komunikasi memerlukan suatu cara mengukurnya dan ini pula yang akan diajarkan.  Selain analisa kualitatif, ada analisa kuantitatif dalam bentuk index - Publicity Effectiveness Index – yang kami rancang untuk mengukur keberhasilan penyampaian pesan perusahaan atau lembaga. Ini dapat dijadikan KPI atau Key Performance Index tim komunikasi perusahaan.

Setiap instruktur yang mengajar telah berpengalaman praktek lebih dari 15 tahun di bidang public relations atau bidang terkait dan dapat mengajar dalam dua bahasa.  Para senior praktisi public relations dan para ahli di bidang terkait lainnya juga akan diundang sebagai pembicara tamu untuk membagi pengetahuan dan pengalamannya.

Usaha kami ini hanya merupakan bagian kecil dari usaha untuk membekali ilmu dan memberdayakan mereka yang ingin menggeluti bidang public relations.  Usaha yang lebih banyak dari berbagai pihak yang lebih luas masih diperlukan untuk memenuhi kebutuhan akan praktisi public relations yang terlatih dengan baik agar dapat langsung bekerja.

 

Oleh: Maria Wongsonagoro

Konsultan Public Relations dan Chief of Training Merdi Intar Sinau - MISI



PUBLIC RELATIONS ITU APA?

Seringkali pertanyaan “Public Relations itu apa?”dilontarkan kepada saya karena yang bertanya masih tidak mengerti persisnya arti dari profesi public relations atau PR.  Mereka bertanya, apakah itu sama dengan marketing, atau penyelenggaraan konperensi pers, atau beriklan atau penyelenggaraan event?  Mereka ingin mengetahui arti PR yang dapat mudah dimengerti melalui contoh-contoh nyata.  Dalam artikel ini, saya akan mencoba memberi pengertian tentang PR dengan contoh-contoh sederhana agar PR dapat lebih dipahami.

Sebelum mulai suatu pelatihan atau ceramah tentang public relations, kadang-kadang saya memberi koran kepada masing-masing peserta dengan permintaan “bacalah dan jelaskan unsur public relations yang ada dalam peristiwa-peristiwa yang diberitakan”.  Seringkali mereka kebingungan untuk mendeteksi unsur PR di berbagai artikel.  Jelas kita dapat mengeliminasi semua iklan atau artikel sponsor dan fokus pada konten editorial.   Kebingungan peserta menunjukkan bahwa antara ilmu dan praktek masih ada kesenjangan. 

Selama menjadi praktisi PR lebih dari 30 tahun, paling sederhana bila ditanya arti PR, jawabannya adalah

Public Relations merupakan fungsi manajemen strategis untuk membina hubungan yang saling menguntungkan antara suatu perusahaan, institusi atau individu dan stakeholders - para pemangku kepentingannya - dalam usaha untuk membangun, menjaga kesinambungan dan meningkatkan reputasi, dengan komunikasi sebagai intinya.

Bila PR diibaratkan sungai, maka strategic management of communications ada di hulu dan kegiatan-kegiatan seperti konperensi pers dan program serta kegiatan-kegiatan PR ada di hilir. 

Yang tidak sepenuhnya disadari adalah pentingnya pekerjaan di hulu yang perlu dilaksanakan sebelum hilir dapat bergerak.  Pekerjaan di hulu dimulai dengan menganalisa situasi yang dihadapi oleh perusahaan saat itu, kemudian pemetaan dan suvei persepsi stakeholders.  Mengapa?  Strategi komunikasi bertujuan untuk mengubah persepsi, dari yang salah menjadi benar, dari yang negatif menjadi positif, dari yang kurang paham menjadi lebih paham.  Bagaimana dapat mengubah persepsi kalau persepsi yang ada di antara kelompok-kelompok stakeholders tidak diketahui?

Strategi komunikasi hanya dapat dilaksanakan bila telah menganalisa persepsi kelompok stakeholders yang disasar.  Kecuali, bila instansi atau perusahaan ingin menggunakan asumsi mereka sendiri.  Namun belum tentu komunikasi akan efektif karena belum tentu asumsi tersebut benar.

Setelah pemetaan persepsi, dan kemudian menetapkan strategi komunikasi bagi kelompok stakeholders yang disasar, maka dibuatlah action plan atau rencana tindak yang juga mencakup kegiatan komunikasi, media yang digunakan (media cetak, online, media sosial, dsb), atau pertemuan/face to face, timeline atau jadwal waktu, stakeholders engagement, kebutuhan akan third party endorsement atau dukungan pihak ketiga, dan hal-hal lain yang terkait.

Selain itu, ada ilmu public relations yang fungsinya mengelola issues, yaitu issues management.  Ini merupakan tindakan proaktif menginventarisasi dan mengelola issues yang ada, sebelum issues tersebut berkembang menjadi krisis.  Intinya adalah secara dini mempersiapkan diri untuk menghadapi issues yang berpotensi menerjang instansi atau perusahaan.  Kalau bisa, menangani issues sehingga persepsi negatif tersebut dapat dinetralisir, dirubah, diperbaiki.

Kalau memang issues dibiarkan berkembang menjadi krisis, dampaknya terhadap instansi atau perusahaan akan lebih parah.  Dan bila menyangkut perusahaan terbuka, dampaknya terhadap harga saham akan sangat terasa.  Dalam hal instansi atau perusahaan mengalami krisis, perlu ilmu public relations yang fungsinya menangani krisis atau crisis management

Saya kadang-kadang mendengar pejabat atau eksekutif instansi maupun perusahaan yang mengatakan “kita tidak perlu PR”.  Setelah membaca uraian di atas, apakah benar suatu instansi atau perusahaan dapat mengabaikan public relations?  Atau karena belum sepenuhnya memahami profesi public relations itu apa?

 

Oleh: Maria Wongsonagoro

Konsultan Public Relations dan Chief of Training Merdi Intar Sinau - MISI






Merdi Intar Sinau

Jl. K.H. Wahid Hasyim no.12A
Kebon Sirih, Jakarta Pusat 10340
Phone : (021) 319-34235 / 0812 813 7100

Copyright © Merdi Intar Sinau - 2016

Social Media :

Facebook Linkedin Instagram Instagram Instagram

Our Partner :